Sabtu, 27 Juli 2013

Migrasi Babi Hutan Di Slatri

Filled under:

Fenomena***
Fenomena alam yang akan kami ceriterakan adalah migrasi babi hutan yang melintasi daerah Slatri.
Slatri adalah salah satu daerah yang lokasinya berada di wilayah Kecamatan Karangkobar di belahan utara Kabupaten Banjarnegara. Untuk ke lokasi ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat melalui jalan provinsi yang menghubungkan antara kota Banjarnegara melalui Banjarmangu menuju Kota Kecamatan Karangkobar.
Kondisi jalan beraspal dan dapat ditempuh dengan sepeda motor, mobil pribadi atau angkutan umum. Untuk angkutan umum jam operasionalnya terbatas, kecuali mau menumpang truk pengangkut hasil bumi atau ternak dengan resiko duduk bersama kambing atau sayur-mayur. Bila diteruskan, jalan ini mentok tepat di pertigaan sebelah kantor Desa Wanayasa. Dilanjutkan ke arah kiri menuju Kalibening dan berakhir di Kabupaten Pekalongan. Sedangkan ke arah kanan menuju Kecamatan Batur dan berakhir di dataran tinggi Dieng.
Hampir sepanjang jalan pemandangannya indah dengan bukit dan lembah hijau yang silih berganti. Keadaan jalan naik-turun, berkelok-kelok, ada yang terjal dengan tikungan tajam dan antar tikungan berjarak sangat pendek, sehingga bagi yang belum terbiasa pasti grogi karena sewaktu-waktu dapat berpapasan dengan pengendara lain yang muncul secara tiba-tiba. Keadaan seperti ini berlanjut hingga ke Kalibening maupun Dieng. Lereng-lereng bukit sekitar Slatri didominasi oleh hutan Pinus milik Perhutani, sedang lembah beserta sisi sungainya ditumbuhi semak belukar. Berhawa sejuk dengan curah hujan tinggi serta kabut yang sering menyelimuti.  Alamnya sangat cocok menjadi habitat berbagai satwa liar seperti harimau Jawa, kera, kucing hutan, babi hutan, musang, burung-burung, binatang melata/reptile seperti ular, kadal, biyawak dan serangga. Dengan kontur tanah yang pada umumnya miring, maka sulit untuk dijadikan pemukiman penduduk. Wajar saja rumah penduduk jarang dan jarak antar rumah saling berjauhan.
Ilustrasi
Peristiwanya sendiri terjadi sekitar pertengahan tahun 1981, harinya Minggu.
Saat mana saya hampir dua minggu sekali pergi-pulang dari Sokaraja Kabupaten Banyumas ke Wanayasa Kabupaten Banjarnegara untuk mengantar istri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan di Kecamatan Wanayasa. Karena besoknya istri harus bertugas menangani kasus wabah penyakit perut di salah satu desa terpencil, maka mau tidak mau Minggu sore harus sudah sampai di rumah dinas guna mempersiapkan alat kesehatan dan obat-obatan untuk pelayanan. Di Sokaraja seharian turun hujan terus menerus dan keluarga serta kawan-kawan istri juga bertandang ke rumah, maka jam keberangkatan ke tempat dinas menjadi mundur. Menggunakan kendaraan umum sudah tidak mungkin lagi karena jadwal routenya telah habis, maka digunakanlah sepeda motor untuk mengantar. Perjalanan terasa lambat, karena keadaan mesin yang sudah tua dan barang-barang bawaan cukup banyak sehingga harus hati-hati untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Purworejo Klampok terlewati, lantas Bawang, ke kiri waduk Mrica (sekarang : waduk Jenderal Soedirman) menuju kota kecamatan Wanadadi (tempat kelahiran penyanyi Ebiet G. Ade). Sampai disini keadaan jalan masih relatif datar. Lepas Kecamatan Wanadadi menuju Banjarmangu jalan sudah mulai naik berkelok-kelok. Diteruskan mencapai Paweden yaitu lokasi wisata alam dan pemandian, mesin sepeda motor terasa panas sekali, bau olie terbakar menyengat, maka mau tidak mau harus diistirahatkan dulu. Waktu istirahat kami gunakan untuk berbincang-bincang dengan penduduk setempat sambil makan jagung rebus. Seorang ibu paruh baya menyarankan menginap saja di rumahnya karena sebentar lagi hari gelap, dengan hujan mengguyur deras dan petir yang menyambar-nyambar sangat rawan untuk perjalanan malam, sedang orang yang bepergian di saat seperti ini bisa dihitung dengan jari, itupun mesti menggunakan mobil yang memadai.
Karena tuntutan tugas, istri memberi kode kita harus tetap jalan. Setelah mesin sepeda motor cukup dingin, saya pamitan ke ibu tadi. Sambil bersalaman, si ibu komat-kamit membacakan doa dengan dialek Banjarnegara, yang artinya agar kami selamat sampai tujuan. Dalam hati saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, di zaman seperti ini masih ada orang yang ikhlas dan mempedulikan kami walau hanya dalam bentuk doa, saya mengapresiasi dengan mengamininya.
Perjalanan kami teruskan.
Belokan, tanjakan, turunan, dan belok lagi begitu seterusnya, saya harus tetap mengendalikan kecepatan dan menjaga keseimbangan kendaraan agar tidak tergelincir dan jatuh ke jurang.
Saat memasuki daerah Slatri memang hujan agak mereda namun ruang pandang sudah terbatas karena hari mulai gelap, hanya sorot lampu sepeda motor dan cahaya kilat sesekali saja menerangi jalan. Keadaan jalan menanjak makin ekstrim, di sebelah kiri tebing dengan aliran air parit di pinggir jalan yang menggelegak, sedang di sebelah kanan hutan pinus yang pucuknya berayun- ayun beradu tertiup angin, sementara semak belukar dan jurang di bawahnya sudah kelihatan menghitam. Sekitar waktu mahgrib kami lewat di sini.
Sedang berkonsentrasi mengendarai sepeda motor tiba-tiba terdengar suara aneh, gemeruduk dan berisik sekali seperti ada benda yang diseret melewati semak-belukar, saya belum pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya. Disusul dengan suara “buuk” ada benda sebesar anak kerbau berwarna hitam jatuh dari atas tebing ke tengah jalan, disusul dengan suara melengking bersaut-sautan.
Sepeda motor seketika saya hentikan, sorot lampu saya arahkan ke benda tersebut yang jaraknya lebih kurang 15 meter dari tempat saya berhenti.
Heran kenapa jatuh, apakah ini batu yang longsor karena hujan...?
Setelah diperhatikan, ternyata seekor babi hutan. Mengetahui keberadaan saya berdua beserta raungan suara mesin sepeda motor yang saya keraskan ditambah sorot lampu besar, maka tanpa tolah-toleh lagi dia langsung bangkit dan lari ke arah hutan pinus, selanjutnya masuk semak belukar menuju lembah.
Perasaan sedikit lega setelah binatang tadi pergi, tetapi tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian menyusul kawanan lain berjatuhan dan bangkit berjalan beriringan satu persatu dengan tertib seperti ada yang memberi komando (urut kacang). Ada yang besar, kecil, sedang, yang besar lagi, kecil lagi, sedang dan besar begitu terus menerus silih berganti berjalan beriringan pada garis route yang sama. Kiranya yang jatuh pertama adalah pejantan pembuka jalan karena taringnya baru kelihatan dua buah dan belum terlalu panjang.
Tak berapa lama kemudian saya terkesima, karena di sisi kiri jalan tiba-tiba muncul seekor babi sebesar kerbau jantan dewasa dan berdiri waspada sambil mengamati lingkungan sekitarnya. Seperti memberi komando agar rombongan bergerak cepat karena menyadari didekatnya ada ancaman. Sorot matanya tajam berwibawa, taringnya berjumlah empat buah termasuk yang pendeknya melengkung panjang sekitar 20 s.d. 30 cm seperti gading gajah. Bulu di punggungnya bagaikan duri, berdiri tegak mulai dari tengkuk hingga ke pinggangnya.
Suara mesin sepeda motor saya kecilkan, lampu saya alihkan ke spot pendek, dan arah sepeda motor saya rubah sedikit-sedikit pada posisi untuk kabur menyelamatkan diri apabila situasi tiba-tiba berubah. Istri saya berbicara pelan agar tetap tenang dan meminta bersama-sama membaca surat Al-Alaq. Yang terpikir oleh saya adalah menyusun strategi bagaimana cara menyelamatkan diri yang paling memungkinkan. Saya ambil cadangan olie di jerigen kecil dari bagasi depan kemudian saya tumpahkan pelan-pelan di sekitar sepeda motor, dengan asumsi binatang liar biasanya akan menghindari bau asing yang menyengat.  Betul saja, ada reaksi dari pejantan yang sedang berjaga itu. Dia kelihatan gelisah dan sering mengangkat kepala serta menggerakan cuping hidungnya untuk mencium bau olie. Kelihatannya tak nyaman, tetapi pekerjaan pengawalan belum selesai.
Disusul kemudian induk yang membawa anak-anaknya, ini dapat dicirikan karena bentuk badanya lebih besar dan tambun hampir sebesar kerbau betina tetapi tidak bertaring. Berikutnya adalah anak-anak tanggung dan yang masih kecil-kecil. Bilamana yang kecil jalannya tidak cepat atau keluar dari barisan, maka induk yang berposisi di belakangnya langsung mendorongnya agar masuk ke dalam barisan sambil mengeluarkan suara dengusan keras. Diperkirakan satu kelompok berjumlah sekitar 15 s.d. 20 ekor, di situ ada induk, pejantan, anak-anak tanggung sampai bayi yang berkulit agak terang. Pejantan dicirikan badannya tegap berwarna hitam dan bertaring, cara berjalannya lurus dengan langkah tegap. Sedangkan bayi-bayi jalannya sedikit meloncat-loncat dan banyak berpaling ke kanan-kiri.
Istri saya menghitung sudah sekitar 40 rombongan konvoi berlalu tanpa putus, tetapi si jantan masih saja berdiri mengawasi, padahal waktu sudah menghabiskan sekitar 25 menit.
Ada sekelompok babi tanggung yang sudah bertaring dua atau empat buah berjumlah sekitar 25 ekor beriringan dengan rapihnya. Saya perkirakan ini kelompok remaja atau dewasa karena kelihatan kompak dan seragam.
Waktu 30 menit sudah berlalu, belum juga ada tanda-tanda konvoi berakhir, karena masih ada lagi rombongan induk sekitar 10 ekor yang jalannya terpincang-pincang dan beberapa ekor lagi kepalanya tertunduk ke tanah dikawal oleh satu ekor babi sebesar kerbau, rupanya ini adalah rombongan babi hutan yang terluka atau sakit. Rombongan berikutnya didominasi oleh bayi-bayi kecil jumlahnya sekitar 60 ekor dikawal oleh 3 ekor induk.
Hitungan waktu hampir menunjukan menit ke 40, ketika tiba-tiba si Komandan menyeringai dan mengeluarkan suara menguik panjang. Saya kaget, dalam benak ini pasti akan menyerang, ia masih pada posisi semula, namun suara lengkingannya makin sering. Tak lama muncul lagi rombongan berjumlah 12 ekor babi hutan yang rata-rata sebesar kerbau jantan dengan taring panjang tetapi bulu di punggungnya masih pendek. Diantaranya ada yang berdarah-darah terluka di sekitar punggung dan bahunya, mungkin bekas berkelahi atau karena serangan binatang buas lainnya.
Beberapa saat menunggu tidak ada lagi rombongan yang muncul, mungkin sudah habis.  Sang komandan yang tadinya hanya berdiri gelisah tiba-tiba meloncat ke arah seberang jalan. Dengan dua kali loncatan sudah dapat menyeberang dan masuk hutan pinus.
Serta merta suara mesin saya raungkan keras-keras dan lampu besar saya sorotkan kearah depan. Saya minta istri untuk berpegang erat-erat, saya akan tancap gas meneruskan perjalanan. Begitu situasi dianggap aman, perjalanan saya lanjutkan.
Di dalam perjalanan saya setengah menganalisa.
Ini kekuasaan Tuhan, saya diselamatkan dan sekaligus dipertunjukan suatu keajaiban alam ciptaannya. Betapa tidak, binatang yang tidak punya daya pikir, hanya dengan naluri kebinatangannya dapat mengkoordinir masyarakatnya dengan begitu rapih, komunikatif, penuh kasih sayang dan bertanggung jawab. Mengevakuasi warga ke tempat yang lebih menjanjikan pastinya diawali dengan survey lokasi dan perencanaan yang matang.
Komunitas yang terdiri dari beratus-ratus warga babi hutan ini diperkirakan datangnya dari Gunung Rogojembangan di sebelah utara Wanayasa. Kemungkinan persediaan makanan disana menipis, habitatnya terganggu atau mengikuti tanda alam. Setelah situasi dan waktunya tepat, warga segera diperintahkan berangkat menuju daerah baru, kemungkinan tujuannya adalah lembah di sekitar Paweden, PLTA Tulis, Maung Banjarmangu atau sekitar waduk Mrica dan disekitarnya yang masih tersedia bahan makanan.
Yang lebih mengagumkan lagi ialah bagai mana mereka menentukan pembagian wilayah tempat mencari makan berdasarkan kelompok dan pimpinannya. Karena sampai sekarang saya belum pernah mendengar kerusakan ladang pertanian yang sampai total puso. Bisa dibayangkan kalau babi hutan yang jumlahnya beratus-ratus itu menyerang ladang bersama-sama, pastilah dalam satu malam berhektar-hektar tanaman bisa hancur. Namun di daerah Banjarnegara belum pernah terdengar ada kejadian ladang rusak total, berarti dalam mencari makanan babi hutan tidak serakah seperti manusia yang mempunyai prinsip aji mumpung.
Suatu manajemen dunia babi yang sempurna.
Doc. By Kang Wirya

0 komentar:

Posting Komentar