Jumat, 22 November 2013

Mencari Air dengan Teknologi Nuklir

Filled under:

Di mana ada BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) di situ ada air. Begitu kira-kira ungkapan yang melekat pada lembaga teknologi yang memfokuskan penelitian pada tenaga nuklir. Pasalnya BATAN dapat mencari sumber air dengan cara mendeteksinya dengan aliran radio isotop. Jika air tersebut berada tak begitu dalam dari permukaan tanah, pencarian bisa dilakukan dengan sebuah alat bernama tracer. Mirip seperti alat gegana pendeteksi bom, tracer pendeteksi air juga akan berbunyi nyaring dan cepat jika menemukan air.

Namun apabila air berada di kedalaman lebih dari 100 meter, radio isotop dilepaskan pada hulu air yang berada di gua, dan tracer kembali dilakukan. Di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada sebuah gua bernama Bribin, teknologi pencari air dari nuklir itu dilakukan. 

Gunung Kidul yang wilayahnya sangat kering kerap kekurangan air, tapi di bawah tanah kaya akan air. Ada beberapa sungai yang mengalir di bawah tanah, di kedalaman 100 meter, sungai bawah tanah Bribin salah satunya.

Sejak tahun 2000 Tim pengeboran bekerja sama dengan BATAN melakukan studi untuk mencari titik yang tepat untuk melakukan pengeboran, dan kemudian memompa air di dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan 79.000 jiwa tiga kecamatan di gunung kidul. Dalam proses pencarian itu, di sanalah teknologi nuklir digunakan.

"Radio isotope dilepas pada air sungai, dari situ dapat diketahui berapa debit air dan volumenya, apabila memenuhi kriteria akan dilakukan pengeboran," kata Andre, salah seorang koordinator pengelola micro hydro di Bribin. Namun tak perlu khawatir, radio isotop yang dialirkan hanya dalam skala kecil. Dan akan hilang hanya dalam 8 jam. Sama sekali tak mencemari lingkungan. 

Mulai 2004, pengeboran dilakukan. Bekerja sama dengan BATAN, Pemda DIY, dan peneliti asal Jerman, penanaman modul (seperangkat alat yang terdiri dari turbin, gearbox, dan pompa) pada kedalaman 105 meter dikerjakan dan selesai pada 2010. Dengan modul tersebut, air dapat ditarik ke atas permukaan tanah dengan debit 20 liter per detik.

Ramadhan Aditya - Okezone 
Repost by Kang Wirya

0 komentar:

Posting Komentar